Sekedar info buat yang belum tahu, klo yang udah, sekedar mengingatkan
*1 ONS BUKAN 100 GRAM.* PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir
tahun lalu.
Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang
telah berlangsung bertahun-tahun.
Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari
suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang
selama itu
dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku
petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul
karena yang
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,
sesuai pelajaran
yang ia terima dari sekolah.
Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk
membela diri dgn.
cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.
Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce)adalah satuan berat
senilai 1/10
kilogram.
Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal
secara
internasional tidak bisa ditemukan. SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan
penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada
lembaga yang paling berwenang atas system takar-timbang dan ukur di
Indonesia , yaitu
Direktorat Metrologi .
Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan
ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan
yang termasuk
dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia
.Untuk ukuran
berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya.
Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan
kebiasaan
memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan
semua anak
timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound =
500 gram,
ternyata *tidak pernah ada acuan system takar-timbang legal* atau pengakuan
internasional
atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram.
Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak
pernah dikenal
adanya satuan ONS khusus **Indonesia **. Jadi, hal ini adalah suatu
kesalahan yang
diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku
sekolah dasar.
Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang
nyata-nyata diajarkan
itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.
Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran
akan penggunaan
sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran
secara benar, dan
bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari.
Sungguh
memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound
= 500 gram,
dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari.
"Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari
para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan
seperti itu.
Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama
Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ? Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas,
Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan.
Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang
mengajarkan kesalahan ini,salah satu alasannya agar tidak menjadi beban
psikologis bagi
mereka; *"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/
diberlakukan
secara internasional, yang menyatakan bahwa :
**1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?
Kalau Dep.Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan
secara resmi di sekolah sampai sekarang ?
Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia
berlaku
konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini,
sementara
pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan
"ons" dalam
transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru
timbangan
Indonesia (versi Depdiknas).
Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
diajarkan
kepada anak-anak.
Perlukah adanya system timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons
*(Depdiknas) * =
100 gram Dan 1 pound *(Depdiknas) * = 500 gram.? Bagaimana "Ons dan Pound
*(Depdiknas) *" ini dimasukkan dalam sistem metric yang sudah baku diseluruh
dunia?
Siapa yang mau pakai?. HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI. Contoh kasus
diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan
akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar.
Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan
resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana
kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya
merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus
segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi
diplomatis mengenai hal ini.
Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia .
Berikan teladan kepada bangsa ini untuktidak malu memperbaiki
kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi
sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling
berwenang
diIndonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita
harus dipersiapkan dengan benar.
Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah
pendidikannya.
Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja
sudah merupakan upaya yang sangat berat.Janganlah malah diperberat
dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan.
Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar
yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa
lokal saja.
Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah.
Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang
berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh
dengan
tantangan berat. ACUAN MANA YANG BENAR? Banyak sekali literatur, khususnya
yang dipakai
dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford
,
dll.
*(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak
perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi
semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian/diary/
agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk
sebagai sarana promosi. *Salah satu* konversi untuk satuan berat yang
umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/ avdp.
(baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)* Bayangkan saja, bagaimana jadinya
kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi
28 gram, namun diberi 100 gram.
Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malpraktek?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!!
Jadi, kalau malpraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
(*ini hanya gambaran/ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali
terjadi)* KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan
juga yang
lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang
keliru" dari
kegiatan kita sehari-hari.
Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya
diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta *rumus
konversi yang
benar*. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam
kebiasaan kita,
yang bisa mencelakakan/ menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa
ini.
LEMBAR PELENGKAP TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI SISTEM
METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN *1799*. *Kuantitas* *Satuan* *Simbol*
*Keterangan* Panjang meter m bukan mtr.Luas meter persegi m2Isi/volume
meter kubik m3Berat gram g bukan gr.Takaran liter 1 l = 1000 cm3
(cc)Suhu/temperatur e derajat Celcius oC BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN
UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK
AWALAN FAKTOR PENGALI SIMBOL/SINGKATAN CONTOH PEMAKAIAN Giga
1.000.000.000 G GHz. Mega 1.000.000 M MW kilo 1.000 k km hecto 100 h ha
deka 10 da dam deci 0,1 d dm centi 0,01 c cm milli 0,001 m ml micro
0,000.001 *m* mF dan seterusnya.
Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran
tanah yang diakui
sah secara internasional.
*Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g.,tidak pernah ada didalam system metrik
maupun non-metrik/imperial yang pernah diberlakukan sah secara
internasional.
Untuk pertanyaan mengenai produk, silah kan menghubungi: HP: 081310396465 PIN BB: 20EF74E5 dan apabila ada request bahan baku yang tidak ada didalam list, silahkan sebutkan produk yang dicari... karena saya tidak bisa update setiap saat untuk produk yang baru... Terimakasih Jimmi
sms gratis
Rabu, 11 Maret 2009
The Law of the Stupid Rich - Smart Poor Pyramid II
Hukum Kedua : The Law of the Stupid Rich - Smart Poor Pyramid
Misalkan anda sebagai ilmuwan menjumpai orang2 yg goblok tapi kaya. Anda sebagai orang pinter bertanya-tanya," kok bisa orang-orang goblok ini kaya?, dia kan ndak sekolah?". Nah, hal ini dapat diterangkan sebagai berikut : Anda telah memilih jalan hidup sebagai orang pinter, dimana per defini adalah "orang yang mencari hidup dengan menjual kepintarannya". Kepintaran itu sendiri adalah hal yang tidak bisa langsung mengenyangkan perut. Agar bisa mengenyangkan perut, pintar itu harus dikonversi.
Cara mengkonversinya adalah dengan menjual kepintaran anda, pada orang yg tidak sekolah dan tidak tahu apa-apa, tidak mengerti integral dan diferensial tingkat 2, tidak lulus kalkulus I, II, dan III, gagal memahami hukum Newton dan mekanika, susah mencerna hukum-hukum termodinamika, kagum dan terpesona melihat aplikasi ilmu robotika, tapi dia KAYA.
Hal ini lebih merupakan konsekuensi dari jalan hidup yang anda pilih, yaitu menjadi orang pinter. Agar anda bisa makan, anda butuh orang yg goblok, tapi kaya. Perjumpaan ini akan terjadi karena sifatnya memang "yin" dan "yang", saling melengkapi. Karena itulah anda akan jarang sekali menjumpai orang yg pinter tapi kaya, dia pasti tidak butuh anda, karena
dia sudah punya semuanya... Anda juga akan jarang bahkan malas menjumpai orang yg pinter tapi miskin, karena dia pasti adalah saingan anda... Anda akan lebih muales lagi ketemu orang goblok tapi miskin, karena kemungkinan besar dia adalah
tukang becak pada hukum pertama.
Dengan demikian, telah diuraikan bahwa anda akan selalu terhimpit di dalam piramida ini. Akan susah sekali bagi anda utk naik ke puncak piramida, terutama sekali karena
1. sifat utama dari pintar adalah nearly irreversible. Sekali anda pintar, maka hampir tidak mungkin anda bisa kembali menjadi goblok.
2. Anda nggak pegang uang.. dengan demikian, diperlukan energi eksitasi yg sangat besar untuk bisa naik ke orbital "goblok tapi kaya". Tetapi bagaimanapun anda masih lumayan.. paling jauh anda kan cuma pinter... lha saya ini lebih parah...saya ini sudah terlanjur jenius....!!!
Misalkan anda sebagai ilmuwan menjumpai orang2 yg goblok tapi kaya. Anda sebagai orang pinter bertanya-tanya," kok bisa orang-orang goblok ini kaya?, dia kan ndak sekolah?". Nah, hal ini dapat diterangkan sebagai berikut : Anda telah memilih jalan hidup sebagai orang pinter, dimana per defini adalah "orang yang mencari hidup dengan menjual kepintarannya". Kepintaran itu sendiri adalah hal yang tidak bisa langsung mengenyangkan perut. Agar bisa mengenyangkan perut, pintar itu harus dikonversi.
Cara mengkonversinya adalah dengan menjual kepintaran anda, pada orang yg tidak sekolah dan tidak tahu apa-apa, tidak mengerti integral dan diferensial tingkat 2, tidak lulus kalkulus I, II, dan III, gagal memahami hukum Newton dan mekanika, susah mencerna hukum-hukum termodinamika, kagum dan terpesona melihat aplikasi ilmu robotika, tapi dia KAYA.
Hal ini lebih merupakan konsekuensi dari jalan hidup yang anda pilih, yaitu menjadi orang pinter. Agar anda bisa makan, anda butuh orang yg goblok, tapi kaya. Perjumpaan ini akan terjadi karena sifatnya memang "yin" dan "yang", saling melengkapi. Karena itulah anda akan jarang sekali menjumpai orang yg pinter tapi kaya, dia pasti tidak butuh anda, karena
dia sudah punya semuanya... Anda juga akan jarang bahkan malas menjumpai orang yg pinter tapi miskin, karena dia pasti adalah saingan anda... Anda akan lebih muales lagi ketemu orang goblok tapi miskin, karena kemungkinan besar dia adalah
tukang becak pada hukum pertama.
Dengan demikian, telah diuraikan bahwa anda akan selalu terhimpit di dalam piramida ini. Akan susah sekali bagi anda utk naik ke puncak piramida, terutama sekali karena
1. sifat utama dari pintar adalah nearly irreversible. Sekali anda pintar, maka hampir tidak mungkin anda bisa kembali menjadi goblok.
2. Anda nggak pegang uang.. dengan demikian, diperlukan energi eksitasi yg sangat besar untuk bisa naik ke orbital "goblok tapi kaya". Tetapi bagaimanapun anda masih lumayan.. paling jauh anda kan cuma pinter... lha saya ini lebih parah...saya ini sudah terlanjur jenius....!!!
The Law of Continous Supply of Stupidity I
Hukum Pertama : The Law of Continous Supply of Stupidity.
Misalkan pada suatu hari anda sedang naik mobil, tiba- tiba di depan anda terdapat becak yg nyelonong seenaknya dan membuat anda kaget membanting stir ke kanan. Secara otomatis otak anda memerintahkan sel-sel syaraf utk mengirimkan command ke mulut anda. Automatically, anda pun berteriak,"ooo..dasar becak goblok..". Tukang becak itu pun secara otomatis akan menjawab, tentu saja dengan amplitudo suara yg lebih kecil,"ya kalo pinter saya ndak mbecak pak..".
Nah, misalkan anda mempunyai kapabilitas untuk mengambil satu tukang becak tadi untuk mengajarinya berbagai macam ilmu, maka tukang becak tadi akan menjadi pintar. Akibat dari kepintarannya ini, dia melihat berbagai peluang lain untuk mendapatkan nasib lebih baik. Sebagai akibatnya, tukang becak ini akan berhenti mbecak.
Konsekwensinya, becak milik juragan becak ini ndak ada yg narik. Persis seperti aliran elektron akibat adanya beda potensial, yg menyebabkan adanya "hole", "hole" becak ini akan diisi oleh calon tukang becak potensial yg lain, yg memang kepingin mbecak. Akibatnya, ketika anda nyetir mobil di jalan, kemungkinan besar anda akan mengalami kejadian yg sama. "ya kalo pinter saya ndak mbecak pak.."
Dengan demikian, jika laju kedatangan orang yg kita anggap goblok ini jauh lebih tinggi daripada orang pinter, maka untuk tiap orang pinter, tersedia banyak sekali orang goblok.
Perhatian : hukum ini tidak berlaku untuk orang yg mbecak karena kepingin olah raga.
Misalkan pada suatu hari anda sedang naik mobil, tiba- tiba di depan anda terdapat becak yg nyelonong seenaknya dan membuat anda kaget membanting stir ke kanan. Secara otomatis otak anda memerintahkan sel-sel syaraf utk mengirimkan command ke mulut anda. Automatically, anda pun berteriak,"ooo..dasar becak goblok..". Tukang becak itu pun secara otomatis akan menjawab, tentu saja dengan amplitudo suara yg lebih kecil,"ya kalo pinter saya ndak mbecak pak..".
Nah, misalkan anda mempunyai kapabilitas untuk mengambil satu tukang becak tadi untuk mengajarinya berbagai macam ilmu, maka tukang becak tadi akan menjadi pintar. Akibat dari kepintarannya ini, dia melihat berbagai peluang lain untuk mendapatkan nasib lebih baik. Sebagai akibatnya, tukang becak ini akan berhenti mbecak.
Konsekwensinya, becak milik juragan becak ini ndak ada yg narik. Persis seperti aliran elektron akibat adanya beda potensial, yg menyebabkan adanya "hole", "hole" becak ini akan diisi oleh calon tukang becak potensial yg lain, yg memang kepingin mbecak. Akibatnya, ketika anda nyetir mobil di jalan, kemungkinan besar anda akan mengalami kejadian yg sama. "ya kalo pinter saya ndak mbecak pak.."
Dengan demikian, jika laju kedatangan orang yg kita anggap goblok ini jauh lebih tinggi daripada orang pinter, maka untuk tiap orang pinter, tersedia banyak sekali orang goblok.
Perhatian : hukum ini tidak berlaku untuk orang yg mbecak karena kepingin olah raga.
Gue udah tau semuanya...
Ita baru masuk SMU, masa-masa pubernya bikin
dia centil dan suka ngerjain
orang. Kali ini dia dapet kata-kata baru buat
ngerjain orang.
Hari pertama, dia nelepon temannya :
"Rin, gue udah tau semuanya !" "Hah.." Suara
disana terdengar lemas."Ta,
elu jangan bilang Indri kalo gue jalan sama
cowoknya ya Ta. Gue ada voucher
makan di HokBen, elu jangan bilang-bilang yah.
Sori gue cuma bisa ngasih
itu doang."
"Okelah, gue sih terima aja, lu kan temen gue."
Begitu telepon ditutup, Ita langsung teriak
girang. "Wah oke juga nih, gue
dapet voucher HokBen !! Coba gue praktekin lagi."
Kali ini Ita masuk kamar kakaknya dan langsung
bicara pelan didekat
Kuping kakaknya yang lagi tiduran.
"Wa, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya
Wa." Dewa langsung bangun,
mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Ita.
"Ta, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue
kasih bensinnya. Tapi
jangan bilang Papi kalo gue nge-gele yah !!!"
"BeEres. "
Ita benar-benar girang, kali ini dia mencegat
Papinya yang baru pulang
kerja.
"Pah,." Ita mengejar Papinya yang cuek
bebek "Pah, Ita mau ngomong."
"Ada apa sih Ta ?!! Papa capek nih."
"Ita udah tau semuanya Pah..." Mendadak
Papanya celingukan, mengeluarkan
HP dan menelepon seseorang
"Ta, Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi.
Tapi !!! Jangan pernah
bilang Mama soal si Ijah."
Ita girang campur sebel. Ternyata Papanya
menduakan Mama cuma demi
pembantunya si Ijah. Ita langsung berlari tanpa
sepatah katapun.
Diluar, Ita bertemu Pak Udi, sopirnya yang sudah
belasan tahun bekerja
dirumahnya. Ita mulai usil lagi. Dia kesal juga,
pasti dia tau soal si
Ijah, tapi bungkam selama ini, gue kerjain juga nih,
pikirnya.
"Pak !!!" Ita benar-b enar membuat kaget
sopirnya "Saya sudah tau semuanya."
Pak Udi terbengong, dan perlahan meneteskan
airmata. Ita malah bingung.
"Ita !!! Peluklah Bapakmu ini Sayang. Akhirnya kau
tahu juga Nak !"
dia centil dan suka ngerjain
orang. Kali ini dia dapet kata-kata baru buat
ngerjain orang.
Hari pertama, dia nelepon temannya :
"Rin, gue udah tau semuanya !" "Hah.." Suara
disana terdengar lemas."Ta,
elu jangan bilang Indri kalo gue jalan sama
cowoknya ya Ta. Gue ada voucher
makan di HokBen, elu jangan bilang-bilang yah.
Sori gue cuma bisa ngasih
itu doang."
"Okelah, gue sih terima aja, lu kan temen gue."
Begitu telepon ditutup, Ita langsung teriak
girang. "Wah oke juga nih, gue
dapet voucher HokBen !! Coba gue praktekin lagi."
Kali ini Ita masuk kamar kakaknya dan langsung
bicara pelan didekat
Kuping kakaknya yang lagi tiduran.
"Wa, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya
Wa." Dewa langsung bangun,
mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Ita.
"Ta, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue
kasih bensinnya. Tapi
jangan bilang Papi kalo gue nge-gele yah !!!"
"BeEres. "
Ita benar-benar girang, kali ini dia mencegat
Papinya yang baru pulang
kerja.
"Pah,." Ita mengejar Papinya yang cuek
bebek "Pah, Ita mau ngomong."
"Ada apa sih Ta ?!! Papa capek nih."
"Ita udah tau semuanya Pah..." Mendadak
Papanya celingukan, mengeluarkan
HP dan menelepon seseorang
"Ta, Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi.
Tapi !!! Jangan pernah
bilang Mama soal si Ijah."
Ita girang campur sebel. Ternyata Papanya
menduakan Mama cuma demi
pembantunya si Ijah. Ita langsung berlari tanpa
sepatah katapun.
Diluar, Ita bertemu Pak Udi, sopirnya yang sudah
belasan tahun bekerja
dirumahnya. Ita mulai usil lagi. Dia kesal juga,
pasti dia tau soal si
Ijah, tapi bungkam selama ini, gue kerjain juga nih,
pikirnya.
"Pak !!!" Ita benar-b enar membuat kaget
sopirnya "Saya sudah tau semuanya."
Pak Udi terbengong, dan perlahan meneteskan
airmata. Ita malah bingung.
"Ita !!! Peluklah Bapakmu ini Sayang. Akhirnya kau
tahu juga Nak !"
Langganan:
Postingan (Atom)